Catatan Perjalanan (JPN – Mexico 2011) – Chapter 1

Oleh: Tri Yulizar

 Perjalanan Dinas kali ini terasa berbeda karena tidak seperti biasanya. Kali ini tujuan saya adalah Jepang dan salah satu negara di benua Amerika yaitu Mexico. Kedua negara ini sejujurnya bukanlah negara yang saya cita-citakan untuk dikunjungi, memang Jepang terkenal dengan kemajuan teknologinya dan semangat yang kuat. Namun, karena sejak masih sekolah di STM Listrik hingga perguruan tinggi, perlatan pendukung laboraturium didominasi oleh produk-produk Jerman, ditambah lagi team F1 favorit saya Mc. Laren Mercedes (juga produk Jerman) dan tokoh Idola saya adalah Pak de Habibie maka negara Jerman adalah cita-cita saya dan yang tidak ketinggalan adalah ponsel pertama saya juga Siemens  ME45 (yang juga masih original made in germany) (he..he..)

 

Tidak seperti perjalanan yang biasa saya tuju ke Singapura dan Malaysia yang biasanya bisa pulang ke Indonesia (Batam) di hari yang sama, perjalanan kali ini mengharuskan saya meninggalkan istri saya yang sedang memasuki masa kehamilan 8 bulan selama 2 minggu penuh. Sedikit mepet memang, namun prediksi dokter kandungan mengatakan bahwa buah hati kami yang pertama akan dilahirkan pada tanggal 24-April-2011. mengingat rencana perjalanan dinas saya adalah tanggal 23-Maret-2011 ~ 05-April-2011, maka bismillah sayapun berangkat.

 

Tidak banyak persiapan yang saya lakukan, hanya mencari informasi tentang kondisi di negara tujuan saya, untuk Jepang tentu tidak akan sulit karena rekan perjalanan saya juga merupakan kewarganegaraan Jepang, setidaknya saya bisa ‘mengandalkannya’. Namun untuk tujuan Mexico say aharus benar-benar mencari informasi yang tepat. Beberapa persiapan mulai dari Visa application untuk JPN dan MEX pun saya persiapakan, berkat komunikasi yang baik dengan staff Mexico embassy di Jakarta proses pembuatan Visa di kedutaan besar mexico yang normalnya bisa memakan waktu 3 hari dapat diselesaikan dalam satu hari saja (gracias por todos los empleados de la embajada). Untuk pengurusan Visa Jepang tidak sulit karena pihak perusahaan yang mengajukan aplikasi ke konsulat jepang di Medan.

 

Rencana perjalanan inipun awalnya terancam batal, seperti kit aketahui Negara Jepang terkena gemba dan Tsunami dahsyat pada tanggal 11-maret-2011, isu keamanan dan juga Radiasi nuklir PLTN Fukushima membuat semua berfikir kembali. Apalagi media internacional seperti CNN, NHK dan Al-Jazeera terus menerus mengeksploitasi berita tentang kekacauan yang terjadi. Suasana di Narita Airport, Haneda Airport dan beberapa wilayah lain di Tokyo membuat khawatir siapa saja yang Belum pernah ke Jepang dan tau kondisi geografis di Jepang. Ya, semua terhenyak, negara seperti JPN diluar ‘perkiraan manusia’ yang notabene paling siap menghadapi bencana gempa dan tsunami bisa mengalami kehancuran sebesar itu. Image yang terekam saat itu sungguh benar-benar dahsyat. Saya langsung membayangkan kalau itu terjadi di Indonesia bagaiamana ya, bagaiamana kesiapan Tsunami early warning system yang berharga mahal itu, yang dulu digadang-gadangkan pemerintah setelah tsunami Aceh dan Nias, bagaimana orang-orang pesisir Indonesia yang rumahnya di bangun jauh dari konsep tahan gempa, jika mengingat hal itu ingin rasanya menunda perjalanan ini. Yang mengejutkan saat itu adalah tanggapan staff jepang di perusahaan saya, sambil menonton cuplikan tsunami wave di CNN hanya berujar, “ない問題(nai mondai) / no problem….!, dan memang kata-katanya sejalan dengan sikapnya yang memang tenang-tenang saja…hmmm…sepertinya show must go on. Di minggu yang sama, saya menerima salinan email konfirmasi dari departemen luar negeri jepang mengenai keadaan di negara Mexico, informasi yang saya terima saat itu bahwa keadaan di Mexico khususnya daerah dekat perbatasan dengan US (termasuk daerah Monterrey yang akan menjadi tujuan saya) di informasikan tidak aman sehubungan dengan ganasnya kartel narkotika di sana, diinformasikan juga untuk warga negar ajepang agar menunda keberangkatan yang tidak terlalu penting dan menghindari tempat-tempat umum untuk menghindari keadaan yang tidak diinginkan. Kantor perwakilan perusahaan kami di Singapura juga mengingatkan kembali untuk mereview ulang rencana keberangkatan ke Mexico. Sayapun mengkonfirmasi perihal hal ini ke konselor kedutaan mexico di Yakarta, jawabnya adalah “tidak perlu khawatir di sana memang keadaannya biasa seperti itu, yang justru harus kamu khawatirkan adalah negara jepang yang baru terkena gempa dan Tsunami dahsyat”. Saya hanya tersenyum simpul, warga negara jepang mengindikasikan welcome to JPN tapi please take care in Mexico, konfirmasi konselor mexico adalah sebaliknya welcome to mexico tapi please take care during JPN trip. Ya, wajar sajalah sayapun sering berceloteh “welcome to indonesia pada kolega-kolega di singapura dan indonesia” ya itung-itung dalam upaya membantu pemerintah memajukan pariwisata Indonesia (he..he..). terlepas dari dua kekhawatiran di jepang dan Mexico tersebut, kami akhirnya memutuskan untuk melakukan perjalan ke jepang dan mexico, maklumlah target akhirnya adalah new project di perusahaan tidak bisa di delay. Sayapun kembali Bismillah dan memohon lindungan Allah SWT dalam setiap perjalanan yang saya lewati.

 

Rabu, 23-Maret-2011

Pesawat Singapore Airline yang akan saya tumpang menuju Haneda Airport Jepang baru akan mengudara pukul 21:50 PM, berdasarkan informasi yang saya terima untuk check-in dengan bagasi harus 2 jam sebelumnya, dari batam saya memilih untuk berangkat lebih awal karena ini perjalanan pertama saya melalui Changi Airport, tidak seperti biasanya jika menuju ke singapura dan malaysia saya melewati pelabuhan Batam center, Namur kali ini karena lebih dekat dengan rumah saya memilih melalui pelabuhan Internasional Sekupang saya berangkat pukul 14:30 PM dan tiba di Harbourfront singapore 45 menit kemudian (16:15 PM karena selisih waktu 1 Jam) waktu Singapura. Setelah melewati proses imigrasi sayapun langsung memanggil taxi di sayap kiri Vivo city untuk segera ke Changi Airport. Beruntung, sore itu traffic tidak terlalu ramai seperti biasanya hingga perjalalanan ke Changi Airport hanya memakan waktu sekitar 30 menit saja sampai tiba di terminal 3. Begitu tiba sayapun langsung check-in dan punya banyak waktu untuk meilhat-lihat airpot terbaik didunia tahun 2010 dan kedua di dunia tahun 2011 versi world airport awards ini. Pastinya changi akan menjadi referensi saya untuk membandingkan dengan airport Internasional dunia lainnya, melihat Changi Airport berarti sudah melihat airport teratas tinggal membandingkan sisanya.

Beberapa jam sebelum keberangkatan saya sempat ‘berkeliling’ changi, arsitektur yang memanjakan mata serta berbagai fasilitas pendukung di changi memang pantas menjadikannya sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Sejak memasuki terminal 3 mata saya sudah dimanjakan dengan system roof solid berarsitektur modern, ruang check in yang luas dan lega serta lantai yang full carpet bermotif modern sudah memberikan kesan ‘wah’ buat saya yang selama ini hanya pernah singgah di Adisutcipto Jogjakarta, Ahmad Yani Semarang, Soekarno Hatta Jakarta, Hang Nadim Batam, Depati Amir Pangkal Pinang dan Adi sumarmo Solo. Sambil menunggu rekan perjalanan saya datang, berinternet ria melalui jaringan wifi gratis (tentunya setelah register dengan passport di receptionis untuk mendapatkan user account dan juga password untuk 4 jam) pun mulai saya lakukan, untunglah teman perjalanan saya kali ini adalah netbook Toshiba N305 yang sudah saya charge full agar tidak kehabisan battery selama perjalanan.

Setelah membuka beberapa majalah informatif dari changi, rasa penasaran saya tertuju pada buterfly park, wah…wah…ada taman kupu-kupu di terminal keberangkatan, benar-benar memanjakan orang yang singgah. Sayapun singgah sebentar ke butterfly park, karena sudah jam tujuh malam jadi sudah tidak begitu ramai. Beberapa fasilitas lain yang saya lihat adalah, kolam berenang gratis, bus buat jalan-jalan gratis untuk yang memiliki jeda penerbangan lebih dari 5 jam, art work corner (sudut seni kontemporer) dan juga beberapa charging notebook dan juga ponsel gratis, beberapa internet booth dan display informasi yang sangat jelas dan tertata apik.

Sekitar jam delapan malam, saya memutuskan untuk masuk ke ruang keberangkatan lebih awal setelah mengkonfirmasi rekan perjalanan saya yang masih membeli oleh-oleh di deretan toko eksklusif di changi. Sapaan bahasa inggris khas melanesia mulai terasa saat pemeriksaan barang bawaan, 1 botol Aqua 600ml dan sabun cair sayapun terpaksa tidak bisa ikut dikarenakan kebijakan penerbangan yang hanya membolehkan membawa cairan kurang dari 200ml saja. Ya, sudahlah pikir saya, demi kebaikan bersama juga. Di belakang barisan antrian saya terlihat seorang ibu yang sepertinya protes karena beberapa kosmetik yang mungkin ‘mahal’ tidak diizinkan masuk oleh petugas. Hati kecil saya sedikit protes ketik amelihat di ruang tunggu juga ada softdrink dan mineral water yang dijual, jadi bawa dari luar tidak bisa tapi beli didalam bisa. Sekali lagi saya berusaha maklum, yah inilah security policy.

Sekitar 30 menit kemudian saya bertemu dengan rekan perjalanan saya, sedikit senyum tersimpul di hati saya saat saya melihat oleh-oleh yang dibelinya di Airport internasional Changi adalah ‘dodol garut’..he..he..hanya saja sudah dikemas beda dan berbagai kelengkapan registrasi estándar makanan internasional, tapi tetap saja, dodol adalah dodol, dan dodol itu dari indonesia Cuma kalau di indonesia kemasannya tidak sebaik ini. 1 – 0, skor saya untuk departemen perindustrian dan perdagangan Indonesia dan juga kementrian UKM (Usaha Kecil dan Menengah) juga sama, sama-sama kehilangan peluang untuk menginternasionalkan produk…tak mau lama bersusah fikir sayapun kembali asyik online dan menjadi satu dari jutaan orang lainnya yang ikut korban popularitas facebook belakangan ini.

Saya sempat menguji diri sendiri apakah ketenaran singapore Airline bisa dibuktikan saat ini, no delay ataupun kesalahan-kesalahn konyol lainnya yang sering saya temui pada penerbangan-penerbangan dalam negeri yang saya gunakan. Orang ‘udik’ seperti saya tentunya suka membanding-bandingkan antara negara asal yang saya cintai dengan negara lain, walaupun secara jujur ini pertarungan yang tidak adil (he..he..). Tepat 30 menit sebelum 21:50 PM, gate dibuka untuk kelas utama dan bisnis, nuansa internasional negara tujuan segera hadir. Semua pengumuman pertama menggunakan bahasa jepang lalu diikuti bahasa inggris, setelah penumpang bisnis class masuk semua, barulah kami yang memegang tiket kelas ekonomi diizinkan masuk. Saya masih menduga-duga bagaimanakah fasilitas kelas ekonomi di singapore airlines dengan harga tiket seharga 665 SGD (sekitar 4.5Jt rupiah), terlebih ini perjalana udara malam terpanjang (sekitar 6 Jam 25 menit) buat saya. 10 Menit sebelum keberangkatan seluruh penumpang sudah berada didalam pesawat, informasi keselamatan penerbangan ditayangkan melalui display monitor 8 inchi di depan setiap kursi. Dan (he..he..), tepat di pukul 21:50 pesawat mulai bergerak. Wah, buat saya yang biasa dipermainkan maskapai di Indonesia (maaf tidak saya sebutkan nama maskapai, tapi semuanya selalu delay kecuali garuda Airlines karena saya belum pernah naik Garuda Indonesia Airlines kebanggaan kita berhubung tiketnya yang memang diatas rata-rata he..he..). Sibuk mengamati situasi di pesawat, saya sementara waktu merasa bahwa ini pesawat penumpang terbaik yang pernah saya naiki, Boeing 777-300ER ini memang bukan pesawat baru, dari luar biasa saja, namun terasa beda saat sudah mengijakkan kaki di deck pesawat. Sayapun teringat bahwa crew pesawat singapore airlines adalah yang terbaik di dunia saat ini (hasil best cabin awards 2011: The passengers choice’s awards), dan sekali lagi memang tidak salah. Untuk penerbangan internasional setidaknya saya melihat ada 4 crew yang berbeda, ada crew berkebangsaan India, Berkebangsaan Jepang, Inggris dan China. Semuanya siap melayani berbagai penumpang dari seluruh dunia…tapi sehubungan dengan tujuan penerbangan adalah jepang maka hampir seluruh crew bisa berbahasa jepang (setidaknya itu terlihat oleh saya saat mereka berkomunikasi dengan penumpang di kabin).

Tidak berselang lama, pesawatpun mengudara, dari jauh saya sempat melihat keberadaan pesawat dari maskapai Indonesia Garuda Airlines dan juga Lion Air juga bersiap mengudara, wah hebat juga lion air, walau sempat membuat saya menunggu hampir 5 jam di hang nadim, orang tua saya 5 jam di cengkareng dan jug aponakan saya tertunda 1 hari (delay) di cengkareng serta banyaknya testimoni negatif lainnya yang saya dengar tapi masih bisa eksis mengimbangi ketatnya schedule di changi airport, yah paling tidak adalah sisi baiknya (he..he..). Setelah berada di ketinggian stabil. Makan malam (Moslem meal) yang sudah saya pesan saat membeli tiketpun tiba, Alhamdulillah masih ada nasinya (he..he..). Setelah makan, sayapun menikmati beberapa tontonan gratis di pesawat, sempat menghabiskan The King Speech, beberapa lagu jas Norah jones sayapun berusaha tidur. Walau sulit sekali memejamkan mata tapi aktivitas di pagi esok hari di jepang yang siap menghadang mengharuskan saya untuk tidur.

 

To be continue….

Next Chapter 2 (JPN)