Awas Batam rawan kerusuhan…?

Bukan berniat memprovokasi melalui headline unek-unek diatas, namun sekedar memberi gambaran bahanya daerah yang memiliki struktur geopolitis seperti batam.

Kepentingan kelompok yang terlalu memihak sebaiknya diredam di daerah multi etnik dan kultur ini, batam sedang bertransformasi menjadi kota metropolis yang cukup keras.

Secara umum, pulau industri ini memiliki keunggulan investasi yang memikat, bayangkan saja satu-satunya kawasan FTZ (free trade zone) yang menjadi primadona industri di Batam Bintan Karimun masih terfokus dibatam. ini menjadikan siapa saja akan menuju batam.

Tidak usah terlalu jauh, sama seperti dijogja di cluster perumahan saya saja bertetangga dengan kawan-kawan dari makasar, medan, riau, flores dan sebagainya, inilah contoh sederhana keragaman.

untuk itulah perluny akesadaran bahwa batam tidak akan pernah bisa dijadikan kandang untuk kalangan/golongan etnis/agama tertentu, terlalu dangkal pemikiran itu. batam lebih indah danbaik dijadikan seperti joga, semua orang bisa hadir disana, menjunjung tinggi perbedaan dengan tetap dipayungi budaya jogja itu sendiri. untukitulah siapa saja akan merasa aman dan nyaman bila berada di Jogja…

Seberapa kuatkan ke-Melayuan di Batam,

Sebagai salah satu daerah yang dinaungi oleh adat istiadat melayu, kiranya kelembagaan suku melayu dikuatkan di daerah ini baik secara hukum maupun status. Suku Melayu memiliki peranan yang sama besarnya untuk meredam segala bentuk ketimpangan/perselisihan etnik dibatam.

Adanya Lembaga Adat Melayu (LAM) harus benar-benar dipandang sebagai “pemangku adat”, statusnya harus diistimewakan berbeda dengan perkumpulan atau organisasi budaya bentukan /bawaan lainnya. Kekuasaan lembaga adat ini sangat diperlukan guna menjaga konsistensi kemajuan batam hing atidak keluar dari koridor budaya melayu. bisa dibayangkan jika pihak ekstrem batak membuat perkumpulan sendiri, pihak ekstrem padang membuat perkumpulan sendiri, jawa juga begitu kalimantan, makasar dan lainnya. Akhirnya adalah, semua merasa berbeda, merasa harus diperhatikan lebih dan merasa paling hebat. hingga terbentuklah komunitas yang memiliki eklusivitas tersendiri, maunya menang sendiri, membuat ikatan pemuda, laskar-laskar dan berbagai barisan sendiri, melupakan bahwa “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”…

Baiknya, memang transformasi ini dikawal agar proporsional dan tetap santun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s