Belajar Men-Jogjakan Batam

dsc023601

Orang yang membaca tulisan ini boleh jadi akan mencibir, “Jogj aya jogja, batam ya batam jangan disamakan”, tapi bagi kami orang-orang yang pernah tinggal di kota multi kultur seperti jogja akan setuju kalau batam di akan tampak lebih menarik jiga di jogjakan.

tentunya ini sangatlah berlasan, batam dan joga sama sama memiliki penduduk yang multi ethnic, multi budaya dan multi kepentingan, sama seperti jogja, jogja merupakan kota pelajar yang dipenuhi pelajar dari berbagai daerah diseluruh indonesia dari sabang sampai merauke.

bedanya, anak mudah yang datang ke jogja hampir seluruhnya berniat menimba ilmu beda dengan batam, di batam semua berjuang mendapatkan uang. jogja memiliki kelebihan stabilitas ketentraman yang sangat baik, jauh berbeda dengan batam, kultur batam cenderung ceplas ceplos, budayangan tercampur baur antara melayu, batak dan padang, beda dengan di jogja.

di jogja semua orang sangat bangga dengan bahasa indoesia dan jawa, jarang sekali menemukan orang menggunakan bahasa diluar bahasa indonesia dan jawa di lembaga-lembaga formal di jogjakarta, berbeda dengan batam, semua golongan lebih suka bicara dengan ‘adat’ daerahnya masing-masing, rawan terhadap gesekan multi etnis.

bukan hanya saya, namun hampir berbagai pendapat setuju, kalau batam senyaman jogja investasi dibidang pariwisata akan meningkat tajam…

yang menjadi pertanyaan adalah, siapakah orang asli batam?, apakah budaya asli batam? batam hanya mengekor kemelayuan kepulauan riau yang sangat kental ada di tanjung pinang, orang batam sama sekali tidak ada yang mengkulturkan kemelayuan tanjung pinang, syukurlah ibukota kepulauan riau dipilih di tanjung pinang dan bukan batam, karena batam pulau bentukan yang masih memposisikan diri mencari ke-khasan melanesia.

Sanggupah batam?

Faktanya, transformasi budaya di batam berjalan sangat cepat, organisasi-organisasi kedaerahan ingin menunjukkan tajinya masing-masing, semua berlomba-lomba menjadikan batam tempat terbaik untuk ‘orangnya’. mereka lupa satu hal, lupa kalau batam seharusnya adalah batam…

Di Jogja, juga ada persatuan pelajar daerah, dan organisasi-organisasi kedaerahan, namun mereka yang datang kejogja tahu dan sadar harus sebesar apa porsinya, dan menariknya semua orang yang datang ke jogja juga mencintai jogja seperti mencintai daerahnya masing-masing, jadi pantas saja kalau ‘Jogja berhati Nyaman’.

mumpung belum berlarut-larut, atau ini hanya kekhawatiran saya saja, rivalitas kedaerahan harus diredam, pemerintah harus pantai melihat bahaya gesekan budaya dibatam yang cenderung bertransformasi menghilangkan batam sebagai bagian wilayah melanesia yang kental dengan budaya melayu…

akhirnya, kepada siapa saja yang ada dibatam, marilah jadikan batam tempat tinggal yang nyaman, mari ikut ‘menghidupkan batam’ agar senyaman medan, senyaman aceh, senyaman sumatera barat, senyaman bangka belitung, senyaman surabaya, senyaman bandung dan senyaman jogja….

Advertisements

One response to “Belajar Men-Jogjakan Batam

  1. Jogja pancen adem ayem yo Mas… Masuk jogja serasa masuk ke ruangan ber-ac, shg siapapun yg kepingin merasakan ‘sejuknya’ hrs rela no smoking di dlm ruangan itu. Kalo masuk ke Batam, ibaratnya naik bis kota non ac yg penuh sesak di siang bolong. Penumpangnya ada yg ngorok, ada yg ngiler, ada yg muntah, ada yg nangis jerit2, ada yg nyopet, ada yg raba2, ada yg ngrokok, ada yg nggosip, dll. Panas, membara, gerah… Dan semua penumpang harus tabah jk ingin selamat sampai tujuan. Btw, come n visit my site d0kt3rn1n9s1h.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s