Selamat hari Guru (Arti Sebuah Pengabdian)

Kupersembahkan tulisan ini untuk guru-guruku yang telah mendidikku dengan ikhlas dan sepenuh hati. Terima kasih guru……….Semoga Allah membalas setiap detik pengabdian ikhlasmu…Amin

Tulisan yang diposting Ke Batam Pos
Guru, Guruku, dan Gurumu
Selasa, 25 September 2007
Oleh: Tri Yulizar ST*

Suatu waktu, di suatu tempat. Bukanlah berita baru, cerita duka bagi sang pahlawan tanpa tanda jasa, yang di suatu negeri dipanggil dengan nama ‘Guru’.

Alkisah, dua orang yang telah bersahabat sekian lama bertemu pada suatu waktu. Banyak hal yang mereka ceritakan, dari pertemuan itu salah satu dari mereka telah menjadi pengabdi Negara (Guru), sedangkan rekannya lagi masih belum beruntung mendapatkan pekerjaan sama seperti jutaan sarjana lainnya di negara itu. Banyak sekali cerita hebat dari sang guru, polah tingkah murid-muridnya, sikap dan sifat rekan-rekan kerjanya, keluhan wali murid, hingga kurikulum pendidikan. Ia begitu bangga sebagaii guru. Sahabatnya sangat yakin idealisme sang sahabat yang telah menjadi guru sangat bisa dibanggakan.

Sang guru lalu bercerita tentang hal yang menjadi polemik di tempatnya mengabdi, UN (Ujian Nasional)!. Sang sahabat bergumam dalam hati, “”Kisah sedih ini tidak akan berakhir”, ah ada apakah gerangan dengan sesungguhnya?.

Di negara itu sistem telah dibuat dengan baik, musyawarah dan mufakat. Kesejahteraan guru juga tidaklah sama seperti saat kedua sahabat karib itu menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD ), maupun Sekolah Menengah Pertama (SMP) dulunya. Guru-guru sekarang hebat-hebat, sedikit yang melarat seperti guru-guru mereka dulunya. Guru-guru sekarang juga sekolahnya tinggi sekali, bahkan banyak yang lebih tinggi dari bupati dan wali kota. Bahkan guru sekarang punya Undang-Undang sejak tahun 2005 (UU No 14 Tahun 2005). ”Hebat, sungguh hebat”, sang sahabat bergumam kembali. Lalu sesungguhnya apakah gerangan yang merisaukan hati sang guru? Apakah kecilnya tunjangan? Atau minimnya fasilitas? Bahkan mungkin susahnya jenjang karir seorang guru? ”Bukan itu semua sahabat!”, sang guru cepat membantah.

Sang sahabat semakin bingung, wajah muram apakah didunia pendidikan yang disembunyikan sang guru di negeri antah berantah itu?. ”Jujur ini pertentangan batin, dalam lingkaran profesionalisme, terkadang idealisme masih memiliki nilai tawar,” ujarnya. Prinsip prinsip profesionalisme sering kali dilanggar di negara itu. ”Ah, nampaknya ini masalah serius?”, batin sang sahabat sambil mendengarkan. Lalu sang guru kembali berujar, ia bercerita tentang sebuah kejadian yang sungguh mengiris hatinya, ia bercerita bagaimana kepala sekolah di tempatnya mengajar menginstruksikan kepada para guru untuk menghapus dan mengubah hasil jawaban ujian nasional di sekolahnya. Tujuannya? Jelas agar hasil rata-rata nilai ujian nasional di sekolah itu ”baik”. Naudzubillahi min dzalik. Ini Fatal,” ujar sang sahabat. ”Tidak hanya itu, ada juga siswa yang tidak selayaknya lulus (secara akademik tentunya), diluluskan,” lanjut sang guru.

Anehnya lagi, semuanya baik-baik saja di negara itu hingga saat ini. Sang sahabat lalu teringat akan kiriman email yang dikirimkan oleh seorang sahabat dari dinas pendidikan beberapa waktu lalu, dalam lampiran berjudul “UU No 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen” sungguh tidak terbayangkan jika hal memalukan tersebut terjadi, di saat bangsa di Negara itu berusaha keras meningkatkan standar pendidikan ke level yang lebih tinggi, ada saja oknum dinegara itu yang takut ‘sakit’ dan ‘terluka’. Bukankah di BAB III tentang Prinsip Profesionalitas pasal 7 di beberapa bagian kutipan ayatnya menyatakan: Pertama, memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia; Kedua, memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan;
Dengan kemasan UU semenarik itu bukankah seharusnya insan pendidikan di negara itu harusnya rela ”berdarah-darah” dahulu untuk meningkatkan standar pendidikan di negara ini. Jika kekeliruan ini dilakukan dengan dalih ”Humanisme”, ini semua tampaknya salah besar.

”Lama tertidur” mungkin itulah wajah muram dunia pendidikan di negara itu, pantas saja semakin sedikit Agent of Change di sana. Orientasi pendidikan selalu dibuat oleh buram mengarah ke mana. Sistem dan peraturan lebih dijadikan tuntutan bukan tuntunan.

Setelah menghela nafas sang sahabat teringat akan kisahnya di suatu tempat, dalam cerita itu ada seorang guru yang sangat jujur dan memiliki dedikasi luar biasa terhadap pendidikan dinegara itu. Ia tidak peduli dengan pangkat dan golongan, ia hanya lebih sering teringat dengan sumpahnya, teringat dengan dedikasi dosen-dosennya semasa kuliah, teringat dengan kerasnya orang tuanya mendidiknya tentang arti sebuah kejujuran, tentang arti beasiswa yang didapatkannya penuh untuk menyelesaikan pendidikannya dulu, tentang beban moralnya terhadap statusnya sebagai guru. Ia tidak peduli tetap miskin, tetap tidak punya handphone seperti kebanyakan guru di kota-kota. Yang ia tahu, anak-anak yang tiap pergi bersekolah tidak pernah memakai alas kaki itu harus belajar dan diajarkan tentang kejujuran dan kerja keras.

”Ah, sulit sekali mencari sosok seperti ini di era ini,” batin sang sahabat. Mereka lalu hanya bisa terdiam, membisu, bingung saling menatap dan tersenyum.

Adzan subuh sayup-sayup terdengar, Sang gurupun terbangun dari mimpinya. ”Astaghfirullah hal adzim…,” dibasuhnya wajah rentanya dengan wudlu. Dia masih bersahaja, wajahnya menyiratkan ketulusannya. Diakhir doanya dia berujar ”Ya Alloh, mudah-mudahan mimpiku tidak akan terjadi di di negeri ini….”.

Sebelum pukul tujuh pagi ia sudah tiba disekolah, memeriksa meja dan kursi yang telah menemaninya belasan tahun dengan sebuah piagam didinding bertuliskan ”Guru Teladan Tingkat Nasional”. Pagi itu ia menjadi pembina upacara, topik yang dibahasnya adalah ”Kejujuran dalam Pendidikan sungguh lebih mahal dari nilai yang tertulis”. ***

*)Tri Yulizar ST, Pemerhati Pendidikan, tinggal di Tanjungbalai, Karimun

Advertisements

2 responses to “Selamat hari Guru (Arti Sebuah Pengabdian)

  1. Sebuah ‘penghargaan’ untuk guru-guru yang memuliakan pekerjaannya…rela ‘berdarah-darah’ dipelosok negeri, ‘terseok-seok’ dibelantara ketidak pedulian…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s