Selamat hari Guru (Arti Sebuah Pengabdian)

Kupersembahkan tulisan ini untuk guru-guruku yang telah mendidikku dengan ikhlas dan sepenuh hati. Terima kasih guru……….Semoga Allah membalas setiap detik pengabdian ikhlasmu…Amin

Tulisan yang diposting Ke Batam Pos
Guru, Guruku, dan Gurumu
Selasa, 25 September 2007
Oleh: Tri Yulizar ST*

Suatu waktu, di suatu tempat. Bukanlah berita baru, cerita duka bagi sang pahlawan tanpa tanda jasa, yang di suatu negeri dipanggil dengan nama ‘Guru’.

Alkisah, dua orang yang telah bersahabat sekian lama bertemu pada suatu waktu. Banyak hal yang mereka ceritakan, dari pertemuan itu salah satu dari mereka telah menjadi pengabdi Negara (Guru), sedangkan rekannya lagi masih belum beruntung mendapatkan pekerjaan sama seperti jutaan sarjana lainnya di negara itu. Banyak sekali cerita hebat dari sang guru, polah tingkah murid-muridnya, sikap dan sifat rekan-rekan kerjanya, keluhan wali murid, hingga kurikulum pendidikan. Ia begitu bangga sebagaii guru. Sahabatnya sangat yakin idealisme sang sahabat yang telah menjadi guru sangat bisa dibanggakan.

Sang guru lalu bercerita tentang hal yang menjadi polemik di tempatnya mengabdi, UN (Ujian Nasional)!. Sang sahabat bergumam dalam hati, “”Kisah sedih ini tidak akan berakhir”, ah ada apakah gerangan dengan sesungguhnya?.

Di negara itu sistem telah dibuat dengan baik, musyawarah dan mufakat. Kesejahteraan guru juga tidaklah sama seperti saat kedua sahabat karib itu menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD ), maupun Sekolah Menengah Pertama (SMP) dulunya. Guru-guru sekarang hebat-hebat, sedikit yang melarat seperti guru-guru mereka dulunya. Guru-guru sekarang juga sekolahnya tinggi sekali, bahkan banyak yang lebih tinggi dari bupati dan wali kota. Bahkan guru sekarang punya Undang-Undang sejak tahun 2005 (UU No 14 Tahun 2005). ”Hebat, sungguh hebat”, sang sahabat bergumam kembali. Lalu sesungguhnya apakah gerangan yang merisaukan hati sang guru? Apakah kecilnya tunjangan? Atau minimnya fasilitas? Bahkan mungkin susahnya jenjang karir seorang guru? ”Bukan itu semua sahabat!”, sang guru cepat membantah.

Sang sahabat semakin bingung, wajah muram apakah didunia pendidikan yang disembunyikan sang guru di negeri antah berantah itu?. ”Jujur ini pertentangan batin, dalam lingkaran profesionalisme, terkadang idealisme masih memiliki nilai tawar,” ujarnya. Prinsip prinsip profesionalisme sering kali dilanggar di negara itu. ”Ah, nampaknya ini masalah serius?”, batin sang sahabat sambil mendengarkan. Lalu sang guru kembali berujar, ia bercerita tentang sebuah kejadian yang sungguh mengiris hatinya, ia bercerita bagaimana kepala sekolah di tempatnya mengajar menginstruksikan kepada para guru untuk menghapus dan mengubah hasil jawaban ujian nasional di sekolahnya. Tujuannya? Jelas agar hasil rata-rata nilai ujian nasional di sekolah itu ”baik”. Naudzubillahi min dzalik. Ini Fatal,” ujar sang sahabat. ”Tidak hanya itu, ada juga siswa yang tidak selayaknya lulus (secara akademik tentunya), diluluskan,” lanjut sang guru.

Anehnya lagi, semuanya baik-baik saja di negara itu hingga saat ini. Sang sahabat lalu teringat akan kiriman email yang dikirimkan oleh seorang sahabat dari dinas pendidikan beberapa waktu lalu, dalam lampiran berjudul “UU No 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen” sungguh tidak terbayangkan jika hal memalukan tersebut terjadi, di saat bangsa di Negara itu berusaha keras meningkatkan standar pendidikan ke level yang lebih tinggi, ada saja oknum dinegara itu yang takut ‘sakit’ dan ‘terluka’. Bukankah di BAB III tentang Prinsip Profesionalitas pasal 7 di beberapa bagian kutipan ayatnya menyatakan: Pertama, memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia; Kedua, memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan;
Dengan kemasan UU semenarik itu bukankah seharusnya insan pendidikan di negara itu harusnya rela ”berdarah-darah” dahulu untuk meningkatkan standar pendidikan di negara ini. Jika kekeliruan ini dilakukan dengan dalih ”Humanisme”, ini semua tampaknya salah besar.

”Lama tertidur” mungkin itulah wajah muram dunia pendidikan di negara itu, pantas saja semakin sedikit Agent of Change di sana. Orientasi pendidikan selalu dibuat oleh buram mengarah ke mana. Sistem dan peraturan lebih dijadikan tuntutan bukan tuntunan.

Setelah menghela nafas sang sahabat teringat akan kisahnya di suatu tempat, dalam cerita itu ada seorang guru yang sangat jujur dan memiliki dedikasi luar biasa terhadap pendidikan dinegara itu. Ia tidak peduli dengan pangkat dan golongan, ia hanya lebih sering teringat dengan sumpahnya, teringat dengan dedikasi dosen-dosennya semasa kuliah, teringat dengan kerasnya orang tuanya mendidiknya tentang arti sebuah kejujuran, tentang arti beasiswa yang didapatkannya penuh untuk menyelesaikan pendidikannya dulu, tentang beban moralnya terhadap statusnya sebagai guru. Ia tidak peduli tetap miskin, tetap tidak punya handphone seperti kebanyakan guru di kota-kota. Yang ia tahu, anak-anak yang tiap pergi bersekolah tidak pernah memakai alas kaki itu harus belajar dan diajarkan tentang kejujuran dan kerja keras.

”Ah, sulit sekali mencari sosok seperti ini di era ini,” batin sang sahabat. Mereka lalu hanya bisa terdiam, membisu, bingung saling menatap dan tersenyum.

Adzan subuh sayup-sayup terdengar, Sang gurupun terbangun dari mimpinya. ”Astaghfirullah hal adzim…,” dibasuhnya wajah rentanya dengan wudlu. Dia masih bersahaja, wajahnya menyiratkan ketulusannya. Diakhir doanya dia berujar ”Ya Alloh, mudah-mudahan mimpiku tidak akan terjadi di di negeri ini….”.

Sebelum pukul tujuh pagi ia sudah tiba disekolah, memeriksa meja dan kursi yang telah menemaninya belasan tahun dengan sebuah piagam didinding bertuliskan ”Guru Teladan Tingkat Nasional”. Pagi itu ia menjadi pembina upacara, topik yang dibahasnya adalah ”Kejujuran dalam Pendidikan sungguh lebih mahal dari nilai yang tertulis”. ***

*)Tri Yulizar ST, Pemerhati Pendidikan, tinggal di Tanjungbalai, Karimun

Advertisements

Batam (Per Aspera ad Astra)

Salam Lestari,

Sengaja saya berikan judul ‘Batam (Per Aspera et Astra)’ pada tulisan ini, ada dua hal yang menarik yang pertama adalah kata ‘Batam’ siapa yang tidak kenal Batam, pulau ‘sulapan’ ini masih menjadi surga investasi bagi banyak perusahaan asing, masih menjadi tumpuan harapan bagi ribuan pencari kerja, dan masih menjadi tujuan wisata yang diperhitungkan di Asia. Batam mulai ‘disulap’ menjadi kota metropolis saat tantangan untuk menjawab kebutuhan lahan investasi bagi negera-negara maju. kebutuhan tenaga buruh yang mudah dan murah menjadikan daerah ini sebagai surga bagi outsourcing (agen pencari tenaga kerja), nama batam masih ‘menjual’ untuk di iklankan di luar pulau ini, masih menggiurkan dan mungkin dimimpikan, tapi sesungguhnya ada apa di Batam, di pulau yang terus menggeliat ini.

Batam sangat memiliki potensi ‘tentram’ posisinya sebagai pulau sangat tidak mudah untuk dieksploitasi oleh demonstrasi buruh. tidak ada kampus-kampus besar yang dapat menabuh genderang perang saat ada kebijakan yang tidak adil untuk kaum pekerja, sangat aman untuk investor, menyediakan jalur ‘kabur’ yang sangat mudah untuk pergi ke luar negeri bagi investor yang gagal di pulau ini.

Batam juga didominasi oleh kaum muda, hampir 70% pekerja di batam adalah karyawan kontrak yang usianya diawah 30tahun, kebanyakan perusahaan mengikat kontrak karyawan selama 2 tahun, sangat pandai ide ini, ini untuk meredam gejolak buruh, karena rata-rata gerakan buruh di negara-negara bekembang matang setelah terkonsep selama bertahun-tahun. dibatam itu akan sulit terwujud karena sebelum berkembang akan di ‘cut’ dari perusahaan.

bahkan banyak perusahaan di batam yang ‘mendiskreditkan’ federasi sarikat pekerja, semua karyawan yang ikut andil didalmnya dijamin tidak akan betah…dan akhirnya tersingkir.

Untuk kawan-kawan yang baru akan berencana ke batam, sebagai saran perhatikan dengan detil informasi tentang batam, perusahaan yang akan dituju, kontrak kerja dan juga peraturan ketenaga kerjaan yang berlaku. jangan sampai akhirnya terjebak, banyak outsourcing yang meminta ijazah sebagai jaminan. jika kawan-kawan merasa keberatan silahkan menolak. jangan lupa juga pelajari kultur dan biaya hidup dibatam, kawan-kawan yang terbiasa di jogja misalnya bisa hidup santai dengan hanya 1.5juta, tapi dibatam mungkin berbeda. pelajari dengan teliti juga perusahaan tempat tujuan bekerja, cari referensi sebanyak mungkin ini baik di internet maupun mantan ‘alumni’ perusahaan itu untuk meyakinkan bahwa anda dapat bekerja dengan baik dan bersungguh-sunguh pada perusahaan itu nantinya.

Sangat menyenangkan jika anda merasa bekerja dirumah sendiri dan dibidang yang anda cintai, silahkan mengeksplorasi diri dan mengembangkan diri.

dan yang kedua adalah per aspera et astra, sebuah ungkapan dan juga simbol semangat yang mengartikan dari suri-duri menjadi bintang-bintang dapat menjadi inspirasi dan semangat bagi siapa saja yang baru di pulau ini.

Batam tidak hanya butuh kerja keras tapi juga semangat, sebagai informasi, sudah sangat banyak rekan-rekan kita yang memilih kabur dari batam sebelum menyelesaikan kontrak, karena impiannya tentang batam ternyata berbeda. saran saya, kuatkan semangat anda sampai akhir, itu akan menandakan anda orang yang berkomitmen. bukankah menjadi suatu tantangan saat kita menemui hal-hal baru, bahkan yang cenderung tidak menyenangkan sekalipun…hitung-hitung ini adalah pengalaman hidup….

Buat orang-orang yang jauh dari rumah dan masih tetap berjuang dibatam dengan ikhlas, salut untuk anda….

Salam

Catatan Perjalanan (JPN – Mexico 2011) – Chapter 1

Oleh: Tri Yulizar

 Perjalanan Dinas kali ini terasa berbeda karena tidak seperti biasanya. Kali ini tujuan saya adalah Jepang dan salah satu negara di benua Amerika yaitu Mexico. Kedua negara ini sejujurnya bukanlah negara yang saya cita-citakan untuk dikunjungi, memang Jepang terkenal dengan kemajuan teknologinya dan semangat yang kuat. Namun, karena sejak masih sekolah di STM Listrik hingga perguruan tinggi, perlatan pendukung laboraturium didominasi oleh produk-produk Jerman, ditambah lagi team F1 favorit saya Mc. Laren Mercedes (juga produk Jerman) dan tokoh Idola saya adalah Pak de Habibie maka negara Jerman adalah cita-cita saya dan yang tidak ketinggalan adalah ponsel pertama saya juga Siemens  ME45 (yang juga masih original made in germany) (he..he..)

 

Tidak seperti perjalanan yang biasa saya tuju ke Singapura dan Malaysia yang biasanya bisa pulang ke Indonesia (Batam) di hari yang sama, perjalanan kali ini mengharuskan saya meninggalkan istri saya yang sedang memasuki masa kehamilan 8 bulan selama 2 minggu penuh. Sedikit mepet memang, namun prediksi dokter kandungan mengatakan bahwa buah hati kami yang pertama akan dilahirkan pada tanggal 24-April-2011. mengingat rencana perjalanan dinas saya adalah tanggal 23-Maret-2011 ~ 05-April-2011, maka bismillah sayapun berangkat.

 

Tidak banyak persiapan yang saya lakukan, hanya mencari informasi tentang kondisi di negara tujuan saya, untuk Jepang tentu tidak akan sulit karena rekan perjalanan saya juga merupakan kewarganegaraan Jepang, setidaknya saya bisa ‘mengandalkannya’. Namun untuk tujuan Mexico say aharus benar-benar mencari informasi yang tepat. Beberapa persiapan mulai dari Visa application untuk JPN dan MEX pun saya persiapakan, berkat komunikasi yang baik dengan staff Mexico embassy di Jakarta proses pembuatan Visa di kedutaan besar mexico yang normalnya bisa memakan waktu 3 hari dapat diselesaikan dalam satu hari saja (gracias por todos los empleados de la embajada). Untuk pengurusan Visa Jepang tidak sulit karena pihak perusahaan yang mengajukan aplikasi ke konsulat jepang di Medan.

 

Rencana perjalanan inipun awalnya terancam batal, seperti kit aketahui Negara Jepang terkena gemba dan Tsunami dahsyat pada tanggal 11-maret-2011, isu keamanan dan juga Radiasi nuklir PLTN Fukushima membuat semua berfikir kembali. Apalagi media internacional seperti CNN, NHK dan Al-Jazeera terus menerus mengeksploitasi berita tentang kekacauan yang terjadi. Suasana di Narita Airport, Haneda Airport dan beberapa wilayah lain di Tokyo membuat khawatir siapa saja yang Belum pernah ke Jepang dan tau kondisi geografis di Jepang. Ya, semua terhenyak, negara seperti JPN diluar ‘perkiraan manusia’ yang notabene paling siap menghadapi bencana gempa dan tsunami bisa mengalami kehancuran sebesar itu. Image yang terekam saat itu sungguh benar-benar dahsyat. Saya langsung membayangkan kalau itu terjadi di Indonesia bagaiamana ya, bagaiamana kesiapan Tsunami early warning system yang berharga mahal itu, yang dulu digadang-gadangkan pemerintah setelah tsunami Aceh dan Nias, bagaimana orang-orang pesisir Indonesia yang rumahnya di bangun jauh dari konsep tahan gempa, jika mengingat hal itu ingin rasanya menunda perjalanan ini. Yang mengejutkan saat itu adalah tanggapan staff jepang di perusahaan saya, sambil menonton cuplikan tsunami wave di CNN hanya berujar, “ない問題(nai mondai) / no problem….!, dan memang kata-katanya sejalan dengan sikapnya yang memang tenang-tenang saja…hmmm…sepertinya show must go on. Di minggu yang sama, saya menerima salinan email konfirmasi dari departemen luar negeri jepang mengenai keadaan di negara Mexico, informasi yang saya terima saat itu bahwa keadaan di Mexico khususnya daerah dekat perbatasan dengan US (termasuk daerah Monterrey yang akan menjadi tujuan saya) di informasikan tidak aman sehubungan dengan ganasnya kartel narkotika di sana, diinformasikan juga untuk warga negar ajepang agar menunda keberangkatan yang tidak terlalu penting dan menghindari tempat-tempat umum untuk menghindari keadaan yang tidak diinginkan. Kantor perwakilan perusahaan kami di Singapura juga mengingatkan kembali untuk mereview ulang rencana keberangkatan ke Mexico. Sayapun mengkonfirmasi perihal hal ini ke konselor kedutaan mexico di Yakarta, jawabnya adalah “tidak perlu khawatir di sana memang keadaannya biasa seperti itu, yang justru harus kamu khawatirkan adalah negara jepang yang baru terkena gempa dan Tsunami dahsyat”. Saya hanya tersenyum simpul, warga negara jepang mengindikasikan welcome to JPN tapi please take care in Mexico, konfirmasi konselor mexico adalah sebaliknya welcome to mexico tapi please take care during JPN trip. Ya, wajar sajalah sayapun sering berceloteh “welcome to indonesia pada kolega-kolega di singapura dan indonesia” ya itung-itung dalam upaya membantu pemerintah memajukan pariwisata Indonesia (he..he..). terlepas dari dua kekhawatiran di jepang dan Mexico tersebut, kami akhirnya memutuskan untuk melakukan perjalan ke jepang dan mexico, maklumlah target akhirnya adalah new project di perusahaan tidak bisa di delay. Sayapun kembali Bismillah dan memohon lindungan Allah SWT dalam setiap perjalanan yang saya lewati.

 

Rabu, 23-Maret-2011

Pesawat Singapore Airline yang akan saya tumpang menuju Haneda Airport Jepang baru akan mengudara pukul 21:50 PM, berdasarkan informasi yang saya terima untuk check-in dengan bagasi harus 2 jam sebelumnya, dari batam saya memilih untuk berangkat lebih awal karena ini perjalanan pertama saya melalui Changi Airport, tidak seperti biasanya jika menuju ke singapura dan malaysia saya melewati pelabuhan Batam center, Namur kali ini karena lebih dekat dengan rumah saya memilih melalui pelabuhan Internasional Sekupang saya berangkat pukul 14:30 PM dan tiba di Harbourfront singapore 45 menit kemudian (16:15 PM karena selisih waktu 1 Jam) waktu Singapura. Setelah melewati proses imigrasi sayapun langsung memanggil taxi di sayap kiri Vivo city untuk segera ke Changi Airport. Beruntung, sore itu traffic tidak terlalu ramai seperti biasanya hingga perjalalanan ke Changi Airport hanya memakan waktu sekitar 30 menit saja sampai tiba di terminal 3. Begitu tiba sayapun langsung check-in dan punya banyak waktu untuk meilhat-lihat airpot terbaik didunia tahun 2010 dan kedua di dunia tahun 2011 versi world airport awards ini. Pastinya changi akan menjadi referensi saya untuk membandingkan dengan airport Internasional dunia lainnya, melihat Changi Airport berarti sudah melihat airport teratas tinggal membandingkan sisanya.

Beberapa jam sebelum keberangkatan saya sempat ‘berkeliling’ changi, arsitektur yang memanjakan mata serta berbagai fasilitas pendukung di changi memang pantas menjadikannya sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Sejak memasuki terminal 3 mata saya sudah dimanjakan dengan system roof solid berarsitektur modern, ruang check in yang luas dan lega serta lantai yang full carpet bermotif modern sudah memberikan kesan ‘wah’ buat saya yang selama ini hanya pernah singgah di Adisutcipto Jogjakarta, Ahmad Yani Semarang, Soekarno Hatta Jakarta, Hang Nadim Batam, Depati Amir Pangkal Pinang dan Adi sumarmo Solo. Sambil menunggu rekan perjalanan saya datang, berinternet ria melalui jaringan wifi gratis (tentunya setelah register dengan passport di receptionis untuk mendapatkan user account dan juga password untuk 4 jam) pun mulai saya lakukan, untunglah teman perjalanan saya kali ini adalah netbook Toshiba N305 yang sudah saya charge full agar tidak kehabisan battery selama perjalanan.

Setelah membuka beberapa majalah informatif dari changi, rasa penasaran saya tertuju pada buterfly park, wah…wah…ada taman kupu-kupu di terminal keberangkatan, benar-benar memanjakan orang yang singgah. Sayapun singgah sebentar ke butterfly park, karena sudah jam tujuh malam jadi sudah tidak begitu ramai. Beberapa fasilitas lain yang saya lihat adalah, kolam berenang gratis, bus buat jalan-jalan gratis untuk yang memiliki jeda penerbangan lebih dari 5 jam, art work corner (sudut seni kontemporer) dan juga beberapa charging notebook dan juga ponsel gratis, beberapa internet booth dan display informasi yang sangat jelas dan tertata apik.

Sekitar jam delapan malam, saya memutuskan untuk masuk ke ruang keberangkatan lebih awal setelah mengkonfirmasi rekan perjalanan saya yang masih membeli oleh-oleh di deretan toko eksklusif di changi. Sapaan bahasa inggris khas melanesia mulai terasa saat pemeriksaan barang bawaan, 1 botol Aqua 600ml dan sabun cair sayapun terpaksa tidak bisa ikut dikarenakan kebijakan penerbangan yang hanya membolehkan membawa cairan kurang dari 200ml saja. Ya, sudahlah pikir saya, demi kebaikan bersama juga. Di belakang barisan antrian saya terlihat seorang ibu yang sepertinya protes karena beberapa kosmetik yang mungkin ‘mahal’ tidak diizinkan masuk oleh petugas. Hati kecil saya sedikit protes ketik amelihat di ruang tunggu juga ada softdrink dan mineral water yang dijual, jadi bawa dari luar tidak bisa tapi beli didalam bisa. Sekali lagi saya berusaha maklum, yah inilah security policy.

Sekitar 30 menit kemudian saya bertemu dengan rekan perjalanan saya, sedikit senyum tersimpul di hati saya saat saya melihat oleh-oleh yang dibelinya di Airport internasional Changi adalah ‘dodol garut’..he..he..hanya saja sudah dikemas beda dan berbagai kelengkapan registrasi estándar makanan internasional, tapi tetap saja, dodol adalah dodol, dan dodol itu dari indonesia Cuma kalau di indonesia kemasannya tidak sebaik ini. 1 – 0, skor saya untuk departemen perindustrian dan perdagangan Indonesia dan juga kementrian UKM (Usaha Kecil dan Menengah) juga sama, sama-sama kehilangan peluang untuk menginternasionalkan produk…tak mau lama bersusah fikir sayapun kembali asyik online dan menjadi satu dari jutaan orang lainnya yang ikut korban popularitas facebook belakangan ini.

Saya sempat menguji diri sendiri apakah ketenaran singapore Airline bisa dibuktikan saat ini, no delay ataupun kesalahan-kesalahn konyol lainnya yang sering saya temui pada penerbangan-penerbangan dalam negeri yang saya gunakan. Orang ‘udik’ seperti saya tentunya suka membanding-bandingkan antara negara asal yang saya cintai dengan negara lain, walaupun secara jujur ini pertarungan yang tidak adil (he..he..). Tepat 30 menit sebelum 21:50 PM, gate dibuka untuk kelas utama dan bisnis, nuansa internasional negara tujuan segera hadir. Semua pengumuman pertama menggunakan bahasa jepang lalu diikuti bahasa inggris, setelah penumpang bisnis class masuk semua, barulah kami yang memegang tiket kelas ekonomi diizinkan masuk. Saya masih menduga-duga bagaimanakah fasilitas kelas ekonomi di singapore airlines dengan harga tiket seharga 665 SGD (sekitar 4.5Jt rupiah), terlebih ini perjalana udara malam terpanjang (sekitar 6 Jam 25 menit) buat saya. 10 Menit sebelum keberangkatan seluruh penumpang sudah berada didalam pesawat, informasi keselamatan penerbangan ditayangkan melalui display monitor 8 inchi di depan setiap kursi. Dan (he..he..), tepat di pukul 21:50 pesawat mulai bergerak. Wah, buat saya yang biasa dipermainkan maskapai di Indonesia (maaf tidak saya sebutkan nama maskapai, tapi semuanya selalu delay kecuali garuda Airlines karena saya belum pernah naik Garuda Indonesia Airlines kebanggaan kita berhubung tiketnya yang memang diatas rata-rata he..he..). Sibuk mengamati situasi di pesawat, saya sementara waktu merasa bahwa ini pesawat penumpang terbaik yang pernah saya naiki, Boeing 777-300ER ini memang bukan pesawat baru, dari luar biasa saja, namun terasa beda saat sudah mengijakkan kaki di deck pesawat. Sayapun teringat bahwa crew pesawat singapore airlines adalah yang terbaik di dunia saat ini (hasil best cabin awards 2011: The passengers choice’s awards), dan sekali lagi memang tidak salah. Untuk penerbangan internasional setidaknya saya melihat ada 4 crew yang berbeda, ada crew berkebangsaan India, Berkebangsaan Jepang, Inggris dan China. Semuanya siap melayani berbagai penumpang dari seluruh dunia…tapi sehubungan dengan tujuan penerbangan adalah jepang maka hampir seluruh crew bisa berbahasa jepang (setidaknya itu terlihat oleh saya saat mereka berkomunikasi dengan penumpang di kabin).

Tidak berselang lama, pesawatpun mengudara, dari jauh saya sempat melihat keberadaan pesawat dari maskapai Indonesia Garuda Airlines dan juga Lion Air juga bersiap mengudara, wah hebat juga lion air, walau sempat membuat saya menunggu hampir 5 jam di hang nadim, orang tua saya 5 jam di cengkareng dan jug aponakan saya tertunda 1 hari (delay) di cengkareng serta banyaknya testimoni negatif lainnya yang saya dengar tapi masih bisa eksis mengimbangi ketatnya schedule di changi airport, yah paling tidak adalah sisi baiknya (he..he..). Setelah berada di ketinggian stabil. Makan malam (Moslem meal) yang sudah saya pesan saat membeli tiketpun tiba, Alhamdulillah masih ada nasinya (he..he..). Setelah makan, sayapun menikmati beberapa tontonan gratis di pesawat, sempat menghabiskan The King Speech, beberapa lagu jas Norah jones sayapun berusaha tidur. Walau sulit sekali memejamkan mata tapi aktivitas di pagi esok hari di jepang yang siap menghadang mengharuskan saya untuk tidur.

 

To be continue….

Next Chapter 2 (JPN)

Galau…

Sengaja Kupilih Galau sebagai judul…

Biasanya galau mengkrepesikan suasana hati yang tidak menentu, binggung dan tidak mantap. Seringnya adalah masalah hati dan perasaan.

Namun galau ini adalah galau seorang manusiakarena ‘terlanjur’ menyukai sesuatu yang tidak logis….

Pertanyaan besarnya adalah galau terhadap sesuatu yang kita sendiri tidak tahu apa itu, itulah rumitnya lingkaran hati..terkadang ia menyusahkan tanpa kita tahu apa penyebabnya…

Sebagai manusia, kita sering membuat keputusan salah, mengecewakan baik kita sendiri maupun orang lain…

Senja di kala Fajar

Masih mungkinkah…

angin mendera-dera disela wajah muda ini

wajah orang-orang yang tak kokoh..

wajah yang uzur diterpa kuatnya bias mentari…

lalu untuk apa ini semua

untuk apa ada matahari kalau kau sendiri tidak mengerti

untuk apa ada angin kalau menggunakannya saja kau ragu

untuk apa ada air jika alirannya tidak pernah kau pedulikan…

Ingat..

Tua mu karena ulahmu..

karena jahatmu

karena budi-mu

Uzur didalam hatimu..

melemahkan dirimu..

semakin terlihat

kau bukan pejuang

kau lemah..

tidak setangguh orang-orang gigih

tidak sekuat kemenangan para nabi..

jauh tertinggal

bahkan memerdekakan hatimu saja kau tidak bisa…

bahkan menentramkanya saja kau keliru..

pergi saja..

jauh dari sini..

samapai tak kau lihat lagi sisa-sisa fajar

disaat hari telah senja…

Awas Batam rawan kerusuhan…?

Bukan berniat memprovokasi melalui headline unek-unek diatas, namun sekedar memberi gambaran bahanya daerah yang memiliki struktur geopolitis seperti batam.

Kepentingan kelompok yang terlalu memihak sebaiknya diredam di daerah multi etnik dan kultur ini, batam sedang bertransformasi menjadi kota metropolis yang cukup keras.

Secara umum, pulau industri ini memiliki keunggulan investasi yang memikat, bayangkan saja satu-satunya kawasan FTZ (free trade zone) yang menjadi primadona industri di Batam Bintan Karimun masih terfokus dibatam. ini menjadikan siapa saja akan menuju batam.

Tidak usah terlalu jauh, sama seperti dijogja di cluster perumahan saya saja bertetangga dengan kawan-kawan dari makasar, medan, riau, flores dan sebagainya, inilah contoh sederhana keragaman.

untuk itulah perluny akesadaran bahwa batam tidak akan pernah bisa dijadikan kandang untuk kalangan/golongan etnis/agama tertentu, terlalu dangkal pemikiran itu. batam lebih indah danbaik dijadikan seperti joga, semua orang bisa hadir disana, menjunjung tinggi perbedaan dengan tetap dipayungi budaya jogja itu sendiri. untukitulah siapa saja akan merasa aman dan nyaman bila berada di Jogja…

Seberapa kuatkan ke-Melayuan di Batam,

Sebagai salah satu daerah yang dinaungi oleh adat istiadat melayu, kiranya kelembagaan suku melayu dikuatkan di daerah ini baik secara hukum maupun status. Suku Melayu memiliki peranan yang sama besarnya untuk meredam segala bentuk ketimpangan/perselisihan etnik dibatam.

Adanya Lembaga Adat Melayu (LAM) harus benar-benar dipandang sebagai “pemangku adat”, statusnya harus diistimewakan berbeda dengan perkumpulan atau organisasi budaya bentukan /bawaan lainnya. Kekuasaan lembaga adat ini sangat diperlukan guna menjaga konsistensi kemajuan batam hing atidak keluar dari koridor budaya melayu. bisa dibayangkan jika pihak ekstrem batak membuat perkumpulan sendiri, pihak ekstrem padang membuat perkumpulan sendiri, jawa juga begitu kalimantan, makasar dan lainnya. Akhirnya adalah, semua merasa berbeda, merasa harus diperhatikan lebih dan merasa paling hebat. hingga terbentuklah komunitas yang memiliki eklusivitas tersendiri, maunya menang sendiri, membuat ikatan pemuda, laskar-laskar dan berbagai barisan sendiri, melupakan bahwa “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”…

Baiknya, memang transformasi ini dikawal agar proporsional dan tetap santun.

Manchester United; antara BOM dan sepak bola

JW marriot kembali ‘dihajar’ BOM untuk kedua kalinya, ada apa dibalik semua kejadian ini. yang jelas BOM merubah headline di media masa dari liputan hasil pilpres menjadi Ledakan.

Media mau kemana?
Mau kemana media Indonesia menyikapinya, dunia Internasional sudah terlanjur mengobrak-abrik nama Indonesia, semudah ucapan belasungkawa dan kutukan, ya mengutuk aksi teror. dengan masuknya ledakan ini ke ranah internasional maka semakin sulitlah upaya pemulihan (recovery) yang akan dilakukan.
saya tidak peduli tujuan apa yang ada dibenak para pelaku, yang saya pedulikan adalah nama bangsa ini yang semakin hancur…
enath motovasi apa yang melatar belakangi ini, namun media sebaiknya membantu (dalam artian tetap meliput tapi tidak mendramatisir) akti-aksi teroris yang merugikan iklim (baik pariwisata maupun investasi) di negara kita.
Intelijen sebaiknya bekerja keras, banyak belajar, banyak studi banding, bahkan dengan teroris sekalipun, ada istilah lama dimana kita harus belajar dihutan untuk memahami karakteristik hutan…
Jika tidak, bersiaplah teroris akan selalu menghajar negara kita…

Informasi PTT Dinkes April 2009

PENGUMUMAN
NOMOR: KP.01.021.. 2.0J00

Sehubungan dengan rcncana penerimaan dokter/dokter gigi PTT tahun 2009, dengan ini
disampaikan:

1. Pengangkatan dokter/dokter gigi PTT tahun 2009 direncanakan TMT 01 April 2009,
01 Juni 2009 dan 01 September 2009.
2. Alokasi kebutuhan periode April 2009 akan ditayangkan melalui website
http://www.ropeg-depkes.or.id pada akhir bulan Februari 2009 dan pemberangkatan secara
serentak pada awal April 2009.
3. Prosedur pendaftaran dan kelengkapan berkas:
a. Pendaftaran secara on-line melalui websitew http://www.ropeg-depkes.or.id
b. Berkas dikirim ke PO BOX 1003J KTM 12700 terdiri dari :
. Print out hasil registrasi online
. Asli Surat Keterangan Sehat terbaru dari dokter Pemerintah (Puskesmas/
RS Pemerintah)
. Foto copyl jazah Profesi dokter yang telah dilegalisir asli
. Foto copy STR yang diterbitkan oleh Konsil Kedoktenn Indonesia (BUKAN
LEGALISIR ASLI)
. Surat Pernyataan (download dari http://www.ropeg-depkes.or.id) terdiri dari :
l. Tidak terikat kontrak dengan instansi lain
2. Bersedia betugas untuk waktu yang telah ditentukan
3. Tidak mengambil cuti selama penugasan
(dibuat 2 (dua) lembar, I (satu) lembar bermaterai dan 1 (satu) lembar copy)
. Foto copy KTP/domisili yang disyabkan oleh pejabat pemerintah yang berwenang
(legalisir asli RT/RW/Lurah/Camat)
. Foto copy surat nikah (bagi suami/istri yang sama-sama mendaftar)

Jakarta, 3 Februay 2009

HORENZO (Sebuah Komunikasi)- Part-1

HORENZO

Horenzo merupakan teknik komunikasi efektif yang diadopsi dari negara Jepang, Teknik komunikasi  ini sering digunakan di perusahaan-perusahaan Jepang di seluruh dunia. Horenzo mengedepankan komunikasi yang kontinyu dan efektif, tidak penuh dengan manipulasi.

Horenzo merupakan penggabungan dari HOkoku, RENraku dan SOdan.

– HOKOKU (Report / Pelaporan)

– RENRAKU (Contact / Share)

– SODAN (Consult / Konsultasi)

Hokoku, bentuk laporan yang diberikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan terhadap masalah yang dihadapi, progresnya secara detail dan tindakan-tindakan yang telah dan akan dilakukan terhadap masalah yang dihadapi. Hokoku juga mewajibkan kita melaporkan masalah yang dihadapi kepada atasan kita langsung.

Renraku, Bentuk komunikasi level dua yang mengharuskan kita melaporkan (membagi) informasi yang kita hadapi di wilayah departemen kita kepada departemen lain, ini untuk mengantisipasi jika apa yang kita hadapi juga mengakibatkan (berefek) pihak lain dapat mendapatkan masalah.

Sodan, berkonsultasi kepada atasan kita jika terdapat keraguan dalam mengabil kepustusan atau hasil dari tindakan yang telah dilakukan.

Bersambung….